Posted in Hari2 Ku

#Ngobrol Sebentar


Sore ini 4 April 2011

Hendak begegas pulang dari kantor namun tiba-tiba ditahan “sedikit ngobrol” katanya. Okelah baik,, monggo saya dengarkan. Hari ini bertemakan “mempertahankan idealitas tanpa harus dilibas realitas”. Pembicaraan yang cukup rumit saya rasa bagaimana tidak sore yang so “sleepy – head” kudu memecahkan persoalan yang demikian.

Awalnya kurang bersemangat karna jiwa yang lelah mengawali awal pekan tak ku coba mendengar bahkan cukup mengiyakan saja sekenanya sambil utak -atik hape sesekali nengok tivi. dan kembali baiklah nampak orang ini bersemangat bicara,, pada akhirnya ku tak tega,,, dan kembali baiklah aku matikan tivinya dan kuletakkan dengan baik hape plus mode silent. aku sekarang siap diajak bicara🙂.

Ini membahas tentang idealitas tempo dulu ,,, nah apakah anda pernah punya idealitas dimasa lalu? bagaimana nasibnya sekarang? benar ada atau samasekali tidak ada? Saya harap kita masih ingat dan memegangnya erat-erat.

Hari ini pula temanya membicarakan “seseorang” astagfirulloh ini termasuk ghibahkah? Tapi bagaimana lagi masalah ini harus segera dituntaskan sebelum menular dan merusak lebih parah lagi. Dunia kerja dan idealisme dimasa lalu. Teman saya bercerita lebih tepatnya menceritakan temannya yang tidak lain teman saya juga #Loh :p, Intinya kita punya teman yang sama. Kita tak pernah tahu kapan kita masih diberikan nikmat #istiqomah (Fastaqim kamaa umirta)

Rasulullah saw bersabda: “Surat Hud dan saudara-saudaranya telah menjadikan kepalaku beruban.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, hadits no. 3219). Hal ini dikarenakan di dalam surat Hud terdapat perintah kepada beliau saw untuk istiqamah, tepatnya pada QS Hud: 112 : Fastaqim kama umirta – “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu”

Jalan yang benar merujuklah kepada syariat ,,, tapi apakah manusia akan tegar dengan godaan dunia, dan inilah realitanya. Melihat profil seorang aktivis tempo dulu yang SubkhanAlloh tak elak oleh semangat berjuang mempertahankan dan menebarkan “prinsip ini” memberikan pengaruh menebarkan kebaikan serta segala upaya memperbaiki jaman ini. Lima tahun membangun bisnis bersama seorang teman ,, tahun pertama, kedua, ketiga dan keempat berjalan mulus lancar dan semakin berkembang kesamaan visi misi pendukung utama dalam hal ini. Namun tahun kelima adalah titik balik semuanya dimana sudah mulai banyak goncangan – goncangan dari mulai masalah personal sampai dengan prodesionalitas kerja. Bisnis ini mulai sakit sedikit demi sedikit menggrogi dan puncaknya karena tidak ada kecocokan lagi visi misi dimasa lalu dan segala polemic yang ada akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai (#doh kayak nikah saja) tapi memang benar bak membangun kehidupan berumah tangga tahun kelima dalam rumah tangga katanya sih sudah mulai ada goncangan2, ups tapi berhubung saya belum menikah jadi kurang layak membaha hal ini kembali kepokok bahasan awal.

Singkat cerita dikarenakan tidak menemukan titik temu lagi sudah mencoba untuk berislah dan memulainya dari awal namun tak kunjung ada kalimat rujuk ya sudah mungkin cerai jalan terbaik. Bercerailah dan akhirnya berjalanlah pada jalan masing-masing, optimismis mereka untuk membangun bisnis berdasarkan impian masing-masing. Satu orang memutuskan Lanjut studi ke LN dengan meninggalkan bisnis yang dikelola istri dan satu orang lainnya melanjutkan bisnis yang sama. Saya akan lebih fokus pada orang kedua melihat realitas pengembangan bisnis. Prinsip awal membangun bisnis adalah bekerja adalah ibadah jadi setiap usaha-usaha kita diniatkan karna alloh semata dengan begitu kerja akan semangat tenang dan tidak menyimpang dengan nilai-nilai syariat. Mengghargai karyawan pun Nampak sekali canda-canda kas yang dilontarkan, sikap menggangap karyawan adalah parner kerja bukan sebagai bawahan dan atasan adalah penghargaan tersendiri. Lingkungan kerj seperti layaknya keluarga ada kehangatan disetiap pertemuan semangat –semangat untuk memajukan perusahaan ini tulus dan loyalitas akan timbul dengan sendirinya. Ketidakinginan ikut serta dalam proyek pemerintah bukan karna sebab hal ini berusaha mengurangi hal-hal yang berbau “ruwetnya system birokrasi” Indonesia yang tidak tabu lagi banyak ungsur “uang2 tambahan” yang itu nyata benar-benar terlihat.

Dan lima tahun bukan waktu yang singkat kalau pun akhirnya kondisi ini berubah sedikit demi sedikit layaknya sehatnya suatu tubuh digerogoti penyakit lambat laun kian melemah. Prinsip –prinsip kerja yang mulain luntur kondisi lingkungan kerja yang awut – awutan dan akhirnya “memberikan istilah halal untuk sua*” . Inikah proses mempertahankan idealitas??? Saya dan teman saya ini mencoba mengurai benang yang kusut ini sedikit demi sedikit berfikir solusi yang tepat. Tapi jurang pemisah kami terlampau jauh sekarang, kami pun pernah mencoba membuka “pembicaraan” (sering bahkan) tapi apa daya kami berbicara pada orang yang sudah punya benteng tinggi adalah suatu yang rumit.

Ah sore yang semakin kelabu saja saya rasa ,,, pada akhirnya jam menunjukkan pukul Lima sore ,,, dan akhirnya kita cukupkan saja pembicaraan ini ,,, dan Biarkanlah waktu yang akan menjawab dan menyadarkan semua ini. Wait and see >.<

“Dunia ini datang dan pergi sewaktu-waktu kapan saja. Jika datang bersyukurlah, jika pergi bersabarlah. Karena itu letakkanlah dunia di tanganmu, jangan di hatimu, karena tidak mungkin ada dua cinta berkumpul dalam satu hatimu”

Author:

Aku tidak terlalu beda dengan orang-orang pada umumnya, biasa sangat biasa bahkan. Punya hidup yang bisa dikatakan gitu2 aja alias monoton,

2 thoughts on “#Ngobrol Sebentar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s